Saturday, 7 March 2015

Berubah, Mulai dari Siapa ?


Semua orang menginginkan perubahan. semua orang kagum melihat pejuang-pejuang perubahan berdiri di depan, berani mati untuk berubah. banyak petisi yang di distrtribusikan meminta dukungan akan perubahan, yang di harapkan akan membawa pada kehidupan yang lebih baik. namun, kemudian kita juga bertanya-tanya, apakah perubahan ini sudah dimulai mengingat gejolak penolakan dan resistensi juga terlihat makin kencang.

   Dari beragam gerakan anti korupsi, antirekayasa sampai antibirokrasi di organisasi-oraganisi, tidak kunjung terlihat perbedaan yang nyata. lucunya, semangat berubah tetap ada. namun, disadari bahwa hal yang paling langka adalah bergerak, apakah dari orang-orang di sekitar kita, ataupun di lingkungan terdekat kita, bahkan kita sendiri.

  Pada sebuah lembaga yang terkenal alot berubah, salah satu top management menginginkan adanya penelitian untuk mengetahui mengapa beberapa individu enggan untuk berada di lingkungan mereka bekerja saat ini. ketika ditanya balik apakah pihak managemen sendiri juga mawas diri akan kondisinya dan siap berubah, jawaban beliau sungguh normatif dengan mengatakan bahwa program perubahan sedang digalakkan intensif. sungguh terasa bahwa perubahan itu tampaknya tidak menyangkut dirinya secara individual. mengapa ? persepsi diri ini memang tidak mudah. seperti kata pepatah "kuman di seberang lautan terlihat jelas, tetapi gajah di pelupuk mata lolos dari pandangan" orang sering melihat perubahan di 'luar' dirinya.

     Betapapun para ahli berkali-kali menekankan bahwa kita sesungguhnya bisa melihat diri sendiri lebih jauh, we are self talking, self evaluating, and self sustaining, Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Presiden Republik Indonesia, mengingatkan kolega-koleganya bagimana proses bekerjanya unconscious bias terutama pada saat merekrut calon kader partainya, saat itu tidak ada satupun dari mereka yang merasa bahwa hal tersebut berkenaan dengan dirinya. baru setelah tes sederhana membuktikan bahwa bias itu memang eksis secara nyata di antara mereka sendiri, mereka terbuka dan mengakuinya, dan menerima untuk lebih berhati-hati dalam mengubah pendekatannya.

    Psikolog Muzafer Sherif dan Carl Hovland mengatakan bahwa penerima kenyataan ini sangat powerfull. sepanjang orang masih mempertanyakan 'apakah ada yang salah pada diri kita' tidak mungkin ada tenaga untuk berubah. karena, energi akan habis untuk menutup mata dan membela egonya. belum lagi individu  biasanya memang sudah di sibukkan dengan aktivitas-aktivitas business as usual, yang sudah menjadi kebiasaan beratahun-tahun. individu perlu masuk ke situasi the latitude of acceptance alis 'OK zone' dimana pemahaman diri atau mawas dari individu sudah mencapai titik optimal.

0 comments:

Post a Comment